74% Konsumen Ingin Brand Jujur Soal AI. Begini Cara Memakai AI Tanpa Kehilangan Kepercayaan

By 5 min read
74% Konsumen Ingin Brand Jujur Soal AI. Begini Cara Memakai AI Tanpa Kehilangan Kepercayaan

In short

Survei Oktober 2026: 74% konsumen ingin brand terbuka soal AI di iklan. Ini artinya untuk brand kamu, plus 5 langkah memakai AI tanpa merusak kepercayaan.

Key points

Apa kata data terbaru soal AI di iklan?
Laporan The Authenticity Audit dari Cint (survei sekitar 1.000 konsumen AS, Agustus 2026) memberi gambaran yang cukup jelas: 74% konsumen menilai brand dan kreator wajib mengungka...
Kenapa AI bisa menurunkan kepercayaan pada brand?
Karena brand dibangun dari janji, dan konsumen mengukur janji itu dari hal yang terasa nyata.
Apakah brand harus berhenti memakai AI?
Tidak.
5 langkah memakai AI tanpa merusak kepercayaan konsumen
Visual dimodifikasi dengan bantuan AI.

Full article

Jawaban singkat: Konsumen tidak menolak AI, tapi mereka menolak brand yang menyembunyikannya. Survei Cint bersama Advertising Week (rilis 20 Oktober 2026) menemukan 74% konsumen AS menilai brand wajib terbuka soal penggunaan AI di iklan, dan 44% mengatakan kepercayaan mereka akan turun jika brand tidak terbuka. Kuncinya ada di strategi brand: tentukan di mana AI boleh dipakai, di mana tidak, dan bagaimana brand menyampaikannya.

AI sekarang ada di hampir setiap tahap produksi konten. Visual, copy, video, sampai penjadwalan posting. Pertanyaannya bukan lagi “pakai AI atau tidak”, tapi “bagaimana brand tetap dipercaya saat memakai AI”.

Apa kata data terbaru soal AI di iklan?

Laporan The Authenticity Audit dari Cint (survei sekitar 1.000 konsumen AS, Agustus 2026) memberi gambaran yang cukup jelas:

  • 74% konsumen menilai brand dan kreator wajib mengungkapkan penggunaan AI di iklan.
  • 44% mengatakan kepercayaan mereka pada brand akan turun jika tahu brand tersebut tidak mengungkapkan iklan buatan AI.
  • 43% menyebut AI atau media sintetis yang tidak diungkapkan sebagai alasan utama kehilangan kepercayaan pada brand. Angka ini lebih tinggi dari kerja sama dengan influencer kontroversial (38%).
  • 46% tidak suka melihat manusia buatan AI di iklan. Ini kategori yang paling tidak disukai.
  • 40% justru memilih pemandangan realistis sebagai elemen visual AI yang paling disukai.
  • 93% mengatakan kepercayaan pada brand memengaruhi keputusan membeli.

Riset akademik menunjukkan pola yang sama. Studi eksperimen di COMMUSTY Journal of Communication Studies and Society (Mei 2026, 412 responden, enam kategori produk) menemukan iklan buatan AI mendapat skor kepercayaan lebih rendah dibanding iklan buatan manusia. Faktor terbesarnya adalah persepsi keaslian (authenticity), yang menjelaskan 31,2% dari efek tidak langsung. Kabar baiknya, jarak kepercayaan itu mengecil pada konsumen yang lebih paham AI dan setelah paparan berulang.

Catatan: kedua sumber di atas menggunakan responden di luar Indonesia. Arahnya relevan, tapi angka untuk pasar Indonesia perlu diukur sendiri.

Kenapa AI bisa menurunkan kepercayaan pada brand?

Karena brand dibangun dari janji, dan konsumen mengukur janji itu dari hal yang terasa nyata. Saat iklan terasa dibuat mesin, konsumen mulai bertanya: apakah produknya juga seperti di gambar? Siapa yang sebenarnya bicara?

Masalahnya jarang ada di teknologinya. Masalahnya ada di brand yang belum punya aturan. Tanpa strategi yang jelas, AI dipakai untuk semua hal, termasuk hal yang seharusnya paling manusiawi: wajah brand, testimoni, dan klaim produk.

Apakah brand harus berhenti memakai AI?

Tidak. Data yang sama menunjukkan konsumen bisa menerima AI, terutama untuk elemen seperti latar dan suasana. Yang perlu diubah adalah cara brand memutuskan di mana AI dipakai dan bagaimana brand jujur soal itu. Ini keputusan strategi brand, bukan keputusan tim produksi.

5 langkah memakai AI tanpa merusak kepercayaan konsumen

Kemasan susu Grandairy karya EGGHEAD dengan percikan susu di latar gelap
Visual dimodifikasi dengan bantuan AI. Desain kemasan oleh EGGHEAD.

1. Tulis aturan AI di brand guideline

Tentukan dengan jelas apa yang boleh dibuat AI (latar, eksplorasi ide, variasi layout) dan apa yang tidak (logo, klaim produk, harga, testimoni). Aturan ini menjaga konsistensi saat banyak orang dan banyak tools ikut memproduksi konten.

2. Hindari manusia sintetis sebagai wajah brand

Karena 46% konsumen tidak suka manusia buatan AI di iklan, gunakan orang sungguhan untuk wajah, testimoni, dan duta brand. AI bisa membantu di bagian lain.

3. Buat kebijakan disclosure yang konsisten

Putuskan sejak awal kapan brand mencantumkan label “dibuat dengan bantuan AI” dan di mana label itu muncul. Platform seperti Instagram juga sudah menyediakan label AI. Konsistensi lebih penting daripada sekadar memasang label sesekali.

4. Pastikan manusia memberi persetujuan akhir

Setiap konten AI tetap melewati pengecekan manusia untuk akurasi produk, nada bicara brand, dan sensitivitas budaya. Dengan begitu tanggung jawab tetap ada di brand, bukan di tools.

5. Ukur persepsi, jangan menebak

Lakukan brand audit atau riset persepsi secara berkala: apakah konsumen masih menilai brand kamu jujur, hangat, dan bisa dipercaya? Data ini yang menentukan seberapa jauh AI boleh dipakai.

Bagaimana EGGHEAD melihat AI dalam branding?

Di EGGHEAD, AI membantu kami bekerja lebih cepat di eksekusi. Tapi strategi brand tetap dibangun dari data dan pemahaman manusia: brand audit, riset target market, dan analisis kompetitor. AI bisa membuat visual dalam hitungan detik, tapi tidak bisa memutuskan apa yang seharusnya brand kamu perjuangkan.

Ingin tahu bagaimana brand kamu dipersepsikan, dan di mana AI bisa membantu tanpa mengorbankan kepercayaan? Konsultasikan dengan tim EGGHEAD.

FAQ

Apakah iklan buatan AI wajib diberi label?

Konsumen semakin mengharapkannya. 74% responden survei Cint (Okt 2026) menilai brand wajib mengungkapkan penggunaan AI. Aturan hukum berbeda di tiap negara, jadi cek regulasi dan kebijakan platform yang berlaku.

Elemen AI apa yang paling diterima konsumen?

Menurut survei Cint, pemandangan realistis adalah elemen visual AI yang paling disukai (40%), sedangkan manusia buatan AI paling tidak disukai (46%).

Apakah AI menurunkan kepercayaan pada brand?

Bisa, terutama jika iklan terasa tidak autentik atau penggunaan AI disembunyikan. Riset menunjukkan persepsi keaslian adalah faktor terbesar.

Bagaimana memulai strategi AI untuk brand?

Mulai dari brand audit untuk memahami persepsi saat ini, lalu tuliskan aturan penggunaan AI di brand guideline sebelum memproduksi konten.

Sumber

 

Article trust signals

Author

EGGHEAD is a 360° multidisciplinary branding agency helping businesses build stronger, more meaningful brands through strategy and creativity. Our services include brand strategy, rebranding, corporate identity, product...

Publisher

EGGHEAD

WhatsApp